Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Maju, Bermutu, Berkarakter, dan Berdaya Saing dalam Kebersamaan Tahun 2025

CATATAN PERJALANAN ; BELAJAR DARI QUEEN UNIVERSITY BELFAST

(Foto: Di halaman gedung utama Queen University Belfast)

CATATAN PERJALANAN ; BELAJAR DARI QUEEN UNIVERSITY BELFAST

H. Sholeh Hidayat

Rektor Untirta

Pemberian loan dari Islamic Development Bank (IDB) kepada empat Perguruan Tinggi Negeri yaitu UNTIRTA, UNMUL, Universitas Negeri Malang dan Universitas Jember yang kemudian dikenal dengan 4 in1 (four in one) dalam programnya terdiri atas dua program yaitu berupa hard program dalam bentuk pembangunan gedung, untuk Untirta membangun 11 unit gedung kampus baru terpadu di atas lahan 12 hektar di Sindangsari kecamatan Pabuaran kabupaten Serang yang saat ini sudah mulai lelang dan soft program dalam bentuk riset, pengembangan kurikulum, riset konsorsia dan pengembangan staf. Staf development atau pengembangan staf mengirim 23 orang dosen studi program Doktor (Ph.D) di luar negeri pada negara Eropa, UK, Jerman dan Jepang dan short courses bagi pimpinan dan staf baik di dalam maupun luar negeri. Rombongan pertama mengikuti short courses di luar negeri 5 orang ke London terdiri dari H. Sholeh Hidayat (Rektor), Dr. H. Romli Ardie, M.Pd (Staf Ahli Rektor/Tim PIU IDB), Dr. H. Aceng Hasani, M.Pd (Dekan FKIP), Dr. Safrizal, M.Pd (Kepala Pusat Layanan Internasional (International Office) dan Maman Fatrurahman, Ph.D (Koordiator Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran LP3M Untirta). Rombongan pertama short courses di London selama 16 hari termasuk perjalanan tanggal 9 September dan kembali 23 September 2013 tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng Tanggerang Banten tanggal 24 September 21017 pukul 17.45.

Perjalanan panjang dari Indonesia ke London memakan waktu hampir 17 jam satu kali transit di Singapura. Berangkat dari Jakarta Sabtu tanggal 9 September 2017 pukul 10.00 tiba di Bandara Udara Internasional Heathraw London pukul 21.00 disambut dengan cuaca dingin sekira 13 derajat Celcius. Untunglah kami sudah mengantisipasi cuaca di London saat ini, maka masing-masing membawa jas atau jaket lumayan bisa sedikit melawan rasa dingin. Pada malam itu juga langsung menuju hotel Leonardo sekitar Bandara Udara Heathraw. Hari minggu berikutnya pukul 12.00 deadline check out meninggalkan hotel ke Bandara Udara Heathraw melanjutkan perjalanan ke Queen University Belfast Irlandia Utara dengan jadwal penerbangan pukul 18.10. Sambil menanti keberangkatan ke Belfast Irlandia Utara yang hampir 6 jam dimanfaatkan melaksanakan sholat dhuhur sekaligus dijama taqdim sholat ashar di ruang musholla yang amat kecil yang memang sepertinya tidak dirancang untuk sebuah musholla seperti di Bandara Soekarno Hatta, kami memaklumi saja kota London Umat Islamnya hanya 3.114.992 (5,4%) meskipun walikota terpilih 7 Mei 2016 Sadiq Aman Khan seorang Muslim imigran asal Pakistan aktivis Partai Buruh anak dari seorang ayah Amanullah Khan bekas supir Bus selama 25 tahun di London dan ibunya Sehrun seorang penjahit. Perlu diketahui juga pertumbuhan Islam di London termasuk 5 negara yang tercepat pertumbuhannya di dunia, tahun 1991 hanya 950.000 orang (1,9%) tahun 2016 menjadi 3.144.992 (5,4%) mungkin tahun 2017 ini sudah bertambah lagi.

Pada pukul 19.30 kami sampai di Bandara Udara Belfast City langsung menuju Hotel Ibis sekitar 15 menit dari Bandara Udara dan dekat dengan kampus Queen University Belfast yang akan kami tuju.

Hari Senin tanggal 11 September 2017 pukul 09.00 tiba di kampus Queen University Belfast (QUB) diterima International Office dan Direktur Pascasarjana Prof. Margaret Topping. Dengan Direktur Pascasarjana dan International Office membahas tentang rencana kerjasama dan menyekolahkan 2 orang dosen Untirtaprogram Ph.D melalui dana IDB yaitu ibu Ikomatussuniah bidang ilmu Hukum dan Ina Indriana bidang ekonomi dan bisnis menambahkan dua orang dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP yang lebih dahulu tahun 2016 sudah studi di QUB ini yaitu pa Udi Samanhudi dan pa Ezis Jafarsidik dengan beasiswa dari LPDP.

Dari paparan Direktur The Graduate School (Pascasarjana) QUB ada beberapa hal yang memungkinkan bisa diadopsi dalam pengembangan Untirta ke depan baik penyediaan fasilitas maupun pengembangan kurikulumnya.

Di gedung The Graduate School menjadi tempat mahasiswa program master dan doktoral berkumpul untuk berdiskusi maupun belajar. Ada empat jenis ruangan di gedung ini yaitu lobi utama yang biasa digunakan untuk diskusi sambil bebas membawa berbagai macam jenis makanan dan minuman,ada silent room tempat mahasiswa biasanya belajar dan mengerjakan tugas, classroom yang digunakan untuk pelatihan maupun kuliah tatap muka dan smallgroupdiscussion room berupa ruang kecil untuk diskusi kelompok yang bisa dibooking kapan saja untuk berbagai bentuk diskusi akademik mahasiswa program master maupun doktoral. Ruangan-ruangan ini sangat nyaman lengkap dengan berbagai fasilitas pendukung seperti projektor dan komputer yang tertata dengan rapi.

Pada the Graduate School ini, selain penguasaan subject matter atau content bidang ilmu sesuai program studi pilihnnya juga menyediakan berbagai jenis pelatihan yang ditawarkan secara gratis gratis untuk mahasiswa baik program master maupun doktoral untuk mengembangkan 5 pilar soft skill dengan syarat utama adanya komitmen untuk mengikuti seluruh pertemuan dari setiap jenis pelatihan yang dipilih. Jika menurut pertimbangan tidak mampu mengikuti setiap sesi dengan baik, tim penyelenggara menrekomendasikan untuk tidak mendaftar. Lima pilar pengembangan soft skill sebagai ; thinker, innovator, leader, communicator, future ready. Untuk jadwal pelatihan dibagi ke dalam dua term yaitu academic term bersamaan dengan masa perkuliahan dan summer term dilaksanakan pada waktu kegiatan akademik libur. Tinggal memilih apakah mau di term yang mana dan butuhpelatihan yang mana sesuai selera.

Seusai pertemuan dengan Internasional office dan Direktur The Graduate School dilanjut pertemuan dengan International Food Security dibawah pimpinan Prof. Nigel Scollan mendiskusikan seputar strategi pengelolaan Ketahanan Pangan pada era globalisasi. Pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang diperkirakan pada tahun 2050 menjadi 10 milyar dan globalisasi meniscayakan meningkatknya konsumsi pangan dan perlu penyediaan pangan cukup agar tidak terjadi krisis pangan. Dalam membangun ketahanan pangan pertama-tama melakukan pemetaan lahan terkait dengan kondisi lahan, tingkat kesuburan tanah (soils) kemudian ditentukan jenis tanaman yang cocok dengan kondisi lahan tersebut. Ketahanan pangan yang dikembangkan di International Food Security QUB ini juga masalah hewan ternak yang menjadi konsumsi masyarakat antara lain sapi dan domba. Dalam pemeliharaan sapid an domba (kambing) persatu hektar untuk 100 kambing dengan meningkatkan gizi rumput makanan sapi dan domba. Terkait dengan padi atau beras telah melakukan penelitian di Negara Thailanm, Malaysia dan Jepang ternyata beras di negara tersebut banyak mengandung racun arsenik yang bisa membahayakan kesehatan tubuh manusia. Beras yang mengandung arsenik disebabkan oleh karena pencemaran lingkungan dan obat pupuk padi yang mengandung pestisida

Beras Indonesia dari sampel beras yang dilakukan pengujiannya di Laboratorium Ketahanan Pangan Institute Food Security Queen University Belfast (QUB) tempat kami berkunjung dan melakukan observasi pada laboratorium tersebut termasuk bagus. Tetapi kita mesti waspada dalam beberapa kasus di Indonesia beras-beras yang dijual di pasaran banyak menggunakan bahan pemutih yang dilakukan di pabrik penggilingan padi atau gudang penyimpanan beras sebagaimana pernah dirilis di salah satu Televisi Swasta baru-baru ini, maka kita perlu mewaspadainya. Prof. Andy Meharg pakar biologi dari Institute Food Security QUB menjelaskan kepada kami, karena beras banyak yang tidak sehat sebaiknya dapat dilakukan dengan mengurangi pola konsumsi beras yaitu cukup 3 kali dalam satu minggu mengonsumsi beras. Atau dapat melakukan membersihkan beras dengan air semalaman sebelum dimasak. Memasak beras dengan perbandingan antara air dan beras yaitu dua atau lima berbanding satu (2/5:1). Berdasarkan hasil penelitian Profesor Andy Meharg di atas, maka cara memasak nasi secara tradisional para orang tua kita dengan menanak nasi di atas tungku atau hawu (Sunda), pakai dandang atau seeng (Sunda) dan kukusan atau haseupan (Sunda) merupakan cara memasak nasi yang bisa mengatasi racun arsenik yang mestinya perlu terus dipertahankan dibanding dengan memasak nasi memakai Rice Cooker atau Magic com.

Dari beberapa penelitian, dampak dari penanakan nasi dengan Magic com atau Rice Cooker dalam temperatur yang tinggi adalah, zat carbohydrat dalam nasi yang dipanaskan dalam temperatur tinggi, apabila dikonsumsi akan terjadi dalam tubuh manusia suatu jumlah zat gula/kadar gula yang lebih tinggi dari cara penanakan-pengukusan dengan pembuatan nasi biasa dengan menggunakan alat dandang. Kandungan gula dalam darah keluarga yang menggunakan Magic com, Magic jar atau Rice cooker untuk membuat nasi, zat gula/kadar gula dalam tubuh mereka lebih tinggi dibandingkan dari pada sebelum menggunakan Magic com yaitu dengan menanak-mengukus seperti biasa. Gejala anak muda dan remaja yang banyak terkena penyakit gula (Diabetes Mellitus) adalah dampak dari budaya penggunaaan Magic com/Rice Cooker selama ini dalam nasi keluarga. Oleh karena itu dengan mengetahui bahayanya alat magic jar, sejatinya kita harus sudah kembali beralih menghadirkan nasi dengan cara menanak, mengukus seperti kebiasaan orangtua dulu sebelum ada Magic Jar, Magic Com atau Rice cooker.

Berita Terbaru Lainnya